Hmmm… hujan lagi. Bagian dapur dan ruang makan bocor lagi. Air yang masuk dari asbes yang bocor tidak banyak, namun membuat lantai jadi licin dan lama-lama kayu penyangga asbes akan lapuk.
Agar tidak makin parah, tentu harus diperbaiki. Maka dicarilah tukang yang bisa memperbaiki. Sambil menyelam, minum air. Bukan hanya memperbaiki bagian yang bocor, sekalian saja dibeton dan di atasnya dibuat 2 kamar kecil. Persiapan untuk si kecil yang mulai harus tidur terpisah. Hal ini sudah lama dipikirkan, namun terbentur biaya.
Penulis rasa inilah saat yang tepat. Maka mulailah menghubungi tukang. Bicara soal upah tukang, ada 2 pilihan yang ditawarkan. Pertama, upah harian, kedua upah borongan. Sama dengan hal-hal lain di dunia, selalu ada plus minus pada setiap pilihan.
Pilih upah harian: kerjanya rapi, tapi lambat. Upah borongan: cepat selesai tapi hasil tidak bagus. Solusinya? Pilih salah satu tetapi kerja tukang harus dikontrol (baca: kita beri arahan). Kita yang harus aktif memberi instruksi dan komplain bila ada hasil kerjanya yang tidak sesuai.
Inilah yang selalu terjadi di dunia. Ada 2 hal yang bertolak belakang: suka duka, miskin kaya, hujan panas, dan lain-lain. Hal umum yang terjadi dan kembali terlintas di pikiran penulis kala hujan turun setiap sore.
Bukan saja realita 2 hal bertolak belakang tadi yang kembali “diingatkan” oleh turunnya hujan. Juga realita bahwa di dunia ini, tidak ada yang kekal (anicca), dan realita bahwa manusia selalu butuh kontrol.
Kayu yang terkena tetesan air akan lapuk, tubuh kita juga mengalami hal yang sama. Juga soal kontrol. Pemerintah harus dikontrol oleh masyarakat, karyawan butuh kontrol atasan, kita juga perlu diingatkan sahabat kita agar tetap berada di jalur. Tanpa kontrol, sering kali kita keluar jalur, kebablasan.
Labels: BVD Desember, Introspeksi
Anda mungkin pernah mendengar istilah "ilmu padi" yang diartikan makin berisi, makin merunduk. Orang diharapkan meneladani ilmu padi, makin berilmu, makin merunduk. Makin merendah, tidak sok jago.
Demikian pula salah satu sifat air yang penulis lihat. Bukan karena makin berisi (makin hebat) saja, air merendah (dalam artian mengalir menuju ke tempat yang lebih rendah). Meski hanya setetes, tetap saja menetes ke bawah karena pengaruh gravitasi. Air selalu bergerak ke tempat yang lebih rendah, begitu salah satu sifat air yang diajarkan guru saat masih SD dulu.
Itu salah satu sifat air yang bisa diteladani. Mengajarkan kita selalu "low profile". Tidak sombong, apalagi bertindak semena-mena, seperti kesadisan yang sedang dipertontonkan junta militer Myanmar. Aksi damai bhikkhu dan rakyat Myanmar untuk perbaikan negerinya, malah disambut dengan tembakan peluru tajam. Banyak rakyat dan bhikkhu yang terbunuh. Akses informasi keluar dan masuk ditutup, tetapi tetap saja foto sebagai bukti kekejaman tentara Myanmar tersebar ke dunia (penulis menerima kiriman email dari teman berisi 16 foto korban kekejaman supersadis junta militer Myanmar, termasuk bhikkhu jadi korban). Betapa sadis tindakan tentara menghadapi aksi damai.
Kekerasan junta militer menarik simpati dunia. Demo di mana-mana menuntut agar kekerasan segera dihentikan. Semoga dengan bantuan organisasi dunia seperti PBB, kekerasan di Myanmar segera bisa berakhir. Rakyat bisa hidup lebih baik setelah puluhan tahun hidup dalam tekanan.
Kembali ke soal air. Air, terlihat sangat lembut. Tapi dalam jumlah besar (dalam hal ini, perjuangan rakyat Myanmar dan dukungan orang-orang dunia yang cinta damai), akan jadi kekuatan mahabesar. Semoga kekuatan "air bah" ini akan bisa mengubah keadaan (junta militer tersingkir), atau setidaknya terbentuk pemerintahan yang lebih baik daripada pemerintahan yang selama sangat represif.
Hendry Filcozwei Jan
Labels: BVD November, Introspeksi
Dalam artikel motivasi ditulis, bila menemukan sesuatu yang menghalangi jalan kita, harus kita hadapi. Ada batu menutupi jalan, kita melompatinya (mungkin malah jadi batu loncatan), ada penghalang kita singkirkan, ada angin kita jalan terus. Intinya kita pantang menyerah. Jadi kita tidak berhenti sampai di situ atau kita hindari dengan berbalik arah mencari jalan lain (padahal kita sudah berjalan cukup jauh).
Orang pesimis menganggapnya sebagai halangan, orang optimis menganggapnya sebagai tantangan. Sesuatu yang harus ditaklukkan. Begitu kira-kira tulis artikel motivasi tersebut untuk menyemangati kita.
Sesuatu yang terasa jadi sandungan (atau mungkin saingan dalam dunia bisnis), itu justru memacu kita agar melakukan sesuatu yang lebih agar bisa menang atau setidaknya bertahan. Baru-baru ini, di sekitar Kopo dan Cibaduyut (dekat tempat tinggal penulis) ada 4 pom bensin/ SPBU baru. Tampilan SPBU ini tentu lebih bagus daripada yang sebelumnya sudah ada. Setidaknya lebih bersih karena masih baru. Bahkan semua SPBU baru memakai cewek sebagai karyawan untuk melayani pelanggan. Cuma baru dan pelayan cewek daya tariknya? Tidak! Mereka juga mengadakan undian berhadiah. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan SPBU lama (terlena karena saingan sedikit, seolah memonopoli).
Sekarang jelas SPBU lama jadi sepi. Satu SPBU tidak tinggal diam. Mereka juga mengadakan undian, bahkan memberi fasilitas lebih. Setiap mobil yang isi bahan bakar, kaca depannya dibersihkan! Bahkan terlihat ada galon (kemungkinan airnya hasil isi ulang), disediakan di sana. Belum jelas untuk apa, tapi kemungkinan untuk sopir angkot yang perlu air minum. Hadirnya SPBU baru bukan akhir segalanya (SPBU lama bangkrut), tapi memacu agar mereka jadi lebih baik. Ini keharusan kalau ingin tetap bertahan atau bahkan memenangi persaingan.
Hal yang sama juga terlintas di benak penulis ketika melihat layang-layang. Kalau benda lain menyerah pada angin (terbawa ke mana arah angin bertiup). Bagi layang-layang, angin justru jadi pendorong untuk “terbang” makin tinggi. Tanpa angin, layang-layang tidak bisa naik. Memang di sini ada peran manusia sebagai pemegang kendali. Tapi intinya, angin mungkin dipandang sebagai “pengganggu” dalam mencapai tujuan. Tugas kita adalah mengatur faktor pengganggu agar tidak mengganggu perjalanan kita. Atau kalau bisa, faktor yang terlihat mengganggu, justru dijadikan pendorong (seperti juga halnya perahu layar/ selancar yang bisa memanfaatkan angin untuk maju).
Tanpa “angin”, SPBU yang sudah lama, makin jelek dan tak terawat. Cat yang sudah pudar tidak dicat ulang, pelayanan tidak ditingkatkan, takaran yang tidak pas tidak diperhatikan, tidak pernah terpikir untuk “mengembalikan” sebagian keuntungan untuk menyenangkan hati konsumen seperti memberikan hadiah agar jadi pelangggan yang loyal. Hidup memang perlu tantangan (saingan) agar kita terus aktif untuk jadi lebih baik/ maju. Dan… bila ingin inspirator, layang-layang bisa jadi contoh.
Labels: BVD Oktober, Introspeksi

Irit atau pelit, tergantung dari sisi mana kita memandang. Kalau hal tersebut dilakukan orang yang kurang/ tidak kita sukai, kita cenderung memberi label pelit. Sebaliknya jika hal itu dilakukan orang yang kita sukai, dengan semangat kita memberi sebutan irit. Begitu sebuah pendapat yang pernah penulis baca. Dalam kisah yang akan penulis sajikan ini, penulis serahkan kepada Anda untuk menilai.
Ini kisah tentang tetangga di kota kelahiran penulis (sekitar 25 tahun yang lalu) . Cerita ini penulis dengar dari Mama. Keluarga ini (sebut saja DJ), terkenal sangat hemat. Anda mungkin tidak percaya (termasuk penulis yang saat itu masih SD). Saat membangun rumah merangkap toko (ruko) yang mereka tempati, 1 batang paku pun tidak pernah mereka beli. Bahan bangunan lain tentu mereka beli, tapi paku tidak!
Saat itu, penulis juga tidak percaya. Sampai suatu ketika, penulis mendapat kesempatan "magang" di toko mereka. Sebelum pergi sekolah (kalau masuk siang), atau sepulang sekolah (kalau masuk pagi), penulis diperbantukan di toko DJ. Bukan untuk membantu orang tua mencari nafkah, tapi lebih untuk memisahkan penulis dengan adik penulis (yang kalau bertemu sering berantem), dan "menimba ilmu" dari keluarga superhemat yang sering disebut-sebut Mama untuk kami teladani. Dapat gaji? Seingat penulis tidak, hanya dapat makan (yang menurut ukuran penulis sangat sederhana). Atau kadang-kadang dapat hadiah, yang umumnya bukan mereka beli, tapi didapat dari produk sponsor barang yang mereka jual. Kalau dapat buku tulis misalnya, pasti ada tulisan atau gambar produk obat (mereka memang berdagang obat-obatan, tapi bukan apotek).
Setelah magang, penulis baru percaya tentang pembangunan ruko tanpa pernah membeli paku. Dari mana asal paku tersebut? Anda pernah lihat paket yang dikirim dengan kotak dari kayu? Kalau sekarang mungkin mirip kotak/ peti yang berisi jeruk. Setiap menerima paket dalam bentuk seperti ini, semua paku yang tertancap di kotak dilepas dari papan kemudian diluruskan dengan palu (dipukul-pukul perlahan agar paku yang bengkok lurus kembali). Semua paku disimpan. Tabungan paku inilah yang mereka gunakan saat membangun ruko!
Jajan? Selama penulis magang di sana, boleh dikatakan tidak pernah jajan. Mereka hanya makan nasi (sarapan, makan siang, makan malam). Lauk pun tidak banyak, paling 1 atau 2 macam, dan tentu saja masakan sendiri. Tahu goreng dimakan dengan kecap yang diberi irisan cabe rawit, sayur bening, dan sejenisnya. Anak DJ, cowok (lebih kecil dari penulis) bersekolah di sekolah yang sama dengan penulis. Jajan di sekolah? Tidak ada dalam kamusnya (kayaknya tak pernah diberi uang jajan). Pakaian juga sederhana (dijahit sendiri oleh ortu). Sepatu, sandal, dan perabot di rumah, semua serba sederhana. Tapi anehnya, anak mereka (penulis lupa mereka berapa bersaudara), semuanya pintar-pintar. Prestasi sekolah mereka bagus-bagus.
Hemat yang lain? Dalam setiap kemasan obat, umumnya ada kertas berisi keterangan di dalamnya (khasiat, komposisi, dosis, dan lain-lain). Untuk obat yang sudah umum (sakit kepala, batuk, flu,.) kertas ini dikeluarkan dari kotaknya. Untuk apa? Dijadikan kertas pembungkus. Pernah lihat produk misalnya saja cairan pembasmi nyamuk yang memberi hadiah kepada konsumen? Pemberitahuan tentang hadiah hanya berupa stiker di kemasan produk (bukan tercetak di produk). Stiker dikelupas, lalu dipotong menjadi kecil-kecil. Untuk apa? Stiker ini dijadikan semacam isolasi/ selotip untuk merekatkan kertas saat membungkus. Jadi hemat karet gelang. Hadiah produk? Dipakai sendiri atau dijual.
Anda tentu tahu kardus? Kardus direndam dan ini bisa terkelupas jadi 3 bagian. Bagian atas dan bawah yang rata diambil dan dikeringkan untuk dijadikan kertas pembungkus. Sedangkan yang tengah (yang bergelombang seperti bentuk seng) dibuang. Apa alasan Anda minta bungkus bila membeli sesuatu di toko/ warung? Katakanlah Anda membeli sirup obat batuk atau tablet sakit kepala. Setahu penulis, agar tidak terlihat orang saat kita bawa pulang. Hampir pasti bukan takut kena debu karena obat yang kita beli masih dalam kemasan yang tertutup rapat. Dan. seumur hidup penulis, belum pernah melihat barang yang dibeli dibungkus dengan plastik bening, selain di toko DJ, tempat penulis magang.
Dari mana plastik bening ini? Misalkan produk jamu, dari pabriknya, tiap 10 bungkus jamu dikemas dalam 1 kantong plastik bening (bukan kresek lho.). Plastik bekas jamu dan obat lain dikumpulkan. Kemudian kantong plastik ini dibelah (dipotong 1 sisinya dan bagian bawahnya, sehingga berbentuk selembar plastik alias tak berbentuk kantong lagi). Plastik inilah digunakan untuk membungkus seperti halnya kertas.
Itu baru sebagian jurus hemat mereka. Pelit atau irit, terserah Anda menilai. Meskipun hanya sedikit, ada ilmu mereka yang bisa penulis terapkan dalam kehidupan hingga sekarang. Memang tidak banyak yang bisa (boleh) ditiru karena jaman telah berubah. Hidup tanpa TV, hanya makan nasi tanpa jajan, dan beberapa hal lain, "tidak pas" lagi diterapkan penulis (yang hidup sebagai seorang perumah tangga) di jaman sekarang.
Hendry Filcozwei Jan
Labels: BVD September, Introspeksi